Vegetarian Zombie?! - The Beginning, Escape from The School

Diposting oleh My book pada 07:30, 26-Nov-15

Vegetarian Zombie?! - The Beginning, Escape from The School Semua ini dimulai 1 bulan yang lalu.. *** Aku sedang menyantap bekal makan siang kesukaanku di atap sekolah sembari menikmati pemandangan dibawah.. Hari ini terlihat biasa, murid murid lalu lalang dan bercanda ria bersama teman-temannya, dan aku seorang diri diatas sini menyantap salad kesukaanku sambil membaca sebuah manga online melalui handphoneku. Ya, aku murid baru di sekolah ini dan bisa dibilang aku kurang pandai berkomunikasi dengan orang lain, jadi ya beginilah.. aku menghabiskan waktuku seorang diri. Drrrrttt Handphoneku bergetar, cukup mengagetkanku, bersamaan dengan itu, notification message baru muncul dari BBMku. Yaa, kubaca nanti sajalah, manga ini sebentar lagi juga selesai kubaca, lagipula... paling-paling isinya broadcast aneh, karena tidak mungkin seseorang berkomunikasi denganku kecuali itu benar benar penting. Yap, beres.. sial! manga ini bersambung di bagian yang seru.. oh! Dan rupanya saladku pun sudah habis, ya kurasa aku kembali saja ke kelas kalau begitu. Aku membetulkan poni rambutku dan memasukkan handphone-ku ke saku celana abu abu-ku, namun belum satu langkahpun aku berjalan.. "Ghyyyyaaaaaaa!!!!!!" Sebuah teriakan histeris terdengar dari arah gerbang sekolah, aku langsung membalikan tubuhku untuk melihat apa yang terjadi disana, dan mataku langsung terbelalak hebat. Di halaman sekolah seorang guru tergelatak tak berdaya, darah mengalir hebat dari lengannya yang telah putus, sementara di sekelilingnya terlihat guru-guru lain yang ketakutan, panik, bingung dan lainnya. Namun, aku baru menyadarinya, ada satu orang yang terlihat asing, seorang pria yang terlihat sangat pucat, dan yang membuatku terkejut setengah mati adalah-- Lelaki itu memegangi lengan guru sekolahku yang telah terputus itu lalu ia menggigit lengan itu dan mengoyaknya dengan gigi-giginya, seolah-olah itu adalah makan siangnya. Guru - guru perempuan disana berteriak histeris, beberapa tak bergerak sama sekali, termasuk aku yang memantau dari sini, kejadian tadi persis seperti yang ada dalam manga yang baru saja kubaca. Lalu aku kembali melihat hal yang mengejutkan, guru yang tadi tergeletak tak berdaya perlahan mulai berdiri, namun kini tubuhnya pucat juga, sama seperti orang asing tadi. Dan, kalian tahu kan apa yang terjadi selanjutnya? Ya, guru itu sekarang tertular virus dari si orang asing dan mulai menjadi penyebar virus itu juga. Aku lalu melihat seorang guru lari dari sana menuju ruang guru, hal itu lalu mengingatkanku, aku harus pergi ke kelas! Aku harus memberi tahu teman teman kelasku! Aku tahu aku belum begitu akrab dengan teman-teman baruku ini, namun setidaknya jika aku tak dapat menolong semua yang ada disini, setidaknya aku harus mencoba menolong teman-teman kelasku. Aku berlari dengan kencang menuju kelasku, dengan lokasinya yang jauh dari halaman depan sekolah, aku yakin mereka takkan mendengar teriakan histeris para guru tadi. Pintu kelasku yang ada di ujung lorong itu mulai terlihat, tanpa pikir panjang kubuka pintu kelasku itu dengan kencang, seketika semua pasang mata di ruangan itu langsung tertuju padaku. Guru Fisikaku yang terkenal galak itu langsung menatapku tajam. "Keluar.." Ucapnya dingin sembari kembali menulis di papan tulis. "Ta.. tapi.. pak..." ucapku gelagapan. "Keluar!!" Bentak guru itu tanpa menoleh ke arahku, aku terdiam, bagaimanapun aku harus memberi tahu teman-temanku. Brakkk!! Tanpa sadar tanganku sudah menggebrak papan tulis dengan keras dan menatap tajam ke arah pak guru fisika yang menyebalkan itu. "Biarkan.. aku... bicara!" Ucapku kesal, pak guru itu menatapku tak kalah kesalnya. "Siapa namamu? Besok bapak ingin bertemu dengan orang tua anak tidak sopan ini empat mata!" Ucapnya dengan nada tinggi. "Namaku Volanum Brashika, dan silahkan saja jika ingin bertemu dengan orang tuaku, itu juga jika kau masih hidup esok hari!" Ucapku tegas, entah darimana kata-kata itu datang, ah... dan soal namaku itu, itu memang nama konyol yang diberikan orang tuaku sejak lahir dulu, tolong abaikan saja. -_- Guru fisika itu hanya mengepalkan tangannya keras-keras, lalu tanpa membuang waktu aku menoleh ke arah teman-teman kelasku yang menatapku dengan ketakutan dan tak sedikit pula yang seolah-olah berkata 'Betapa tidak sopannya anak ini' "Teman-teman! Dengarkan aku! Ada sesuatu yang harus ka--" "Untuk seluruh siswa dan guru, harap semua siswa maupun guru semua yang berada di dalam ruangan untuk mengunci pintu, jendela atau apapun akses keluar masuk ruangan itu sampai bantuan tiba, sekali lagi, untuk seluru-- brakk!!" Tiba-tiba terdengar suara sesuatu didobrak dari pengeras suara menyebalkan yang baru saja memotong perkataanku itu. "Gyaaaaahhhh!!! Mereka disini!! Aakkkhh!! Tidak! Tidak! Dia menggigit kakiku aarrrgghhh!!--- *ngiiing*" Suara teriakan histeris dari pengeras suara itu ditutup oleh suara khas mic yang sangat tak enak didengar itu dan seketika suara tersebut menghilang. Aku melihat wajah semua yang ada di kelas, pucat, ketakutan, kebingungan, semuanya bercampur. "A.. apa yang terjadi.. barusan itu?.." "Menggigit kaki? Apa.. apa ada seekor anjing mengamuk?" Itulah gumaman-gumaman pelan yang tertangkap telingaku, aku terdiam, hanya aku yang tahu kejadian sebenarnya, namun tak ada waktu untuk menjelaskannya, para monster itu sudah sampai di ruang guru yang berada tak jauh di kelasku. Tanpa pikir panjang aku langsung menutup pintu kelasku, lalu aku menarik meja yang berada di barisan paling depan untuk menahan pintu itu, semua yang ada disana langsung menatapku. "Hei kau, murid baru! Apa yang sedang terjadi? Kau tahu sesuatu kan?" Ucap seorang lelaki tinggi besar di tengah kelas padaku, ia adalah ketua kelasku, Leon. Aku hanya menoleh padanya sejenak, lalu aku kembali mengambil meja lain untuk menghalangi pintu itu. "Hei! Jawab aku, Sialan!" Ucapnya keras, namun aku hanya menatapnya dingin. "Jika kau mau hidup, bantu aku memblokir pintu ini dari para Zombie di luar sana.." ucapku pelan sembari mengambil meja lainnya. "A.. apa?! Zombie?!" "H.. haha! Kau pasti bercanda Volanum!" "Ka.. kau bohong kan?" "Hentikan lelucon bodohmu!" Aku menghela nafas panjang, sudah kuduga situasi akan seperti ini, jika aku mengatakan kata 'Zombie', aku tak menghiraukan satupun dari mereka dan kembali menyimpan meja lain di atas meja meja yang sudah kususun didepan pintu masuk kelasku ini, kelasku menjadi tak terkendali setelah aku mengatakan kata 'Zombie' ini. Prannkk!!! Terdengar suara kaca pecah dari kelas sebelah, diikuti dengan teriakan histeris dari arah yang sama. Bersamaan dengan itu, semua orang di kelasku terdiam, mata mereka tertuju pada jendela kelas, dan mereka yang berada di dekat jendela perlahan menjauh. Hening sejenak, tak ada seorangpun yang bergerak, akupun begitu, tubuhku terlalu lemas untuk mengangkat meja-meja lagi. Teriakan dari kelas sebelah begitu jelas, namun semakin lama teriakan-teriakan itu menghilang sedikit demi sedikit... Keadaan kelas kami masih membeku, lalu samar-samar terdengar suara langkah pelan ke arah kelas kami... Brakk!! Tiba-tiba nampak wajah orang yang amat menyeramkan dari jendela kelas kami yang paling ujung, orang itu menempelkan wajahnya ke jendela kelas kami, orang itu memakai seragam sekolah kami... "Kyyyaaaaaaaaaaaaa!!!" "Mo.. monster!!!!" "Tidak! Tidak! ini mimpi! "Z.. zombie.. tidak mungkin! Mereka tidak nyata!" Seketika keadaan kelas menjadi ricuh, sementara itu, Zombie yang ada diluar kelas kami itu mendorong-dorong jendela kelas kami dengan wajah dan kedua tangannya yang penuh darah itu... Sebenarnya, apa yang terjadi? Aku tahu jarak kelasku dan atap sekolah itu lumayan jauh, tapi bagaimana mungkin penyebarannya secepat ini? Aku sudah berlari sekuat tenaga, sedangkan mereka hanya berjalan dengan lunglai, ada sesuatu yang aneh... "Ti.. tidak! Apa yang terjadi pada Ayla..." teriak seorang perempuan di salah satu sudut kelas, aku tahu suara perempuan ini, dan aku dengan refleks menoleh. Ya, benar saja yang berteriak itu Fransisca, dia sekretaris kelasku, perempuan yang baik dan cerdas, tunggu.. itu tak penting, yang penting adalah kenapa ia berteriak tadi? Kurasa sebaiknya kuhampiri dia.. "Ada ap--" kata-kataku terpotong ketika melihat Ayla, teman baik Fransisca yang tergeletak di tanah, tubuhnya amat pucat, ia seperti mati namun jari-jarinya masih bergerak. Belum sempat berpikir apa-apa, tiba-tiba Ayla mengejang lalu kepalanya bergerak perlahan menoleh ke arah Fransisca dan langsung menyergapnya. Darr!! Terdengar suara.. peluru?! Seisi kelas langsung terdiam ketika terdengar suara itu dan.. Ah! Ayla sudah tergeletak kembali di lantai dengan darah yang mengalir dari.. lubang? Ada lubang di kepalanya?! Aku menoleh ke arah suara peluru tadi, dan aku melihat seorang lelaki berkacamata menggenggam sebuah senapan revolver yang diarahkan pada kami, tak salah lagi, dia yang menembak Ayla, Alfian.. orang paling pendiam di kelas.. ya mungkin paling pendiam kedua setelahku? Ia menatap tajam ke arah tubuh Ayla yang tergeletak di lantai sementara Fransisca masih terdiam, wajahnya terlihat amat shock, kakinya yang bergetar hebat tak dapat menahan beban tubuhnya lagi, ia akhirnya terduduk dan menangis sejadi- jadinya. "Aylaa!!! Kenapa? Kenapa?! Apa yang terjadi sebenarnya!.." isaknya keras. Darr! Darr! Darr! Darr! Belum sempat aku bernafas setelah kejadian tadi, 4 buah suara tembakan lain terdengar, namun kali ini korbannya berbeda, Alfian menembak 4 orang yang tidak terlihat seperti Zombie sekalipun.. "Hei Alfian! Apa yang kau lakukan! Kau ini pembunuh ya!" Bentak Leon. Alfian tidak berkata apa-apa ia hanya menoleh sejenak pada Leon dan pergi mengambil sebuah sapu dan melemparkannya pada Leon. Secara refleks Leon langsung menangkap sapu itu, belum sempat ia bertanya Alfian sudah menatapnya. "Akan kujelaskan semuanya jika kita sudah berada di tempat aman, sekarang kalian semua bawalah sesuatu yang bisa dijadikan senjata, kita pergi dari sini.." ucapnya dingin. "Hei! Apa maksudmu? Kau menyuruh kami pergi keluar sana?! Tempat aman mana yang kau maksud?! Untuk saat ini kelas kita jauh lebih aman dari dunia luar!" Bentakku kesal dengan sikap 'sok' pemimpinnya. Prankk!! Tanpa disadari jendela kelas kita pecah dan disana sudah ada belasan.. tidak.. puluhan Zombie yang berusaha masuk ke kelas kami ini. Tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang, aku menoleh dan ternyata Alfian disana, mengarahkan gagang pistolnya padaku. "Kuharap kau tahu cara memakainya." Ucapnya pelan. "Eh? Apa maksudmu? Aku tak ada pengalaman sedikitpun!" Aku tak mengerti maksudnya, ada apa dengan orang ini. Tak!! Tubuh seorang Zombie berhasil menyentuh lantai kelas kita dan ia mulai merangkak mencari makanannya... "Sebaiknya kau cepat.." ucap Alfian lagi, aku menggertakan gigiku, aku tak mengerti maksudnya, namun tak ada pilihan lagi, aku mengambil handgun silver itu dari tangannya dan langsung mengarahkan mulut handgun itu ke kepala Zombie itu. Bermodalkan pengalamanku bermain Resident Evil, aku langsung menembakan sebuah peluru dari handgun itu. Darr!! Peluru itu menembus kepalanya, aku benar-benar merasa seperti pembunuh sekarang.. Darr!!.. Darr!!.. Darr!!.. 3 buah tembakan lain terdengar dari sebelahku, ya.. Alfian baru saja menembak 3 zombie lain dengan Revolver hitamnya. "Mulai saat ini aku yang memimpin, jika kalian ingin selamat, ikut aku keluar sekolah ini, namun kemungkinan kalian mati di perjalanan masih ada.." ucapnya dingin. "Sekarang terserah kalian, tinggal di kelas ini dengan kemungkinan selamat 2% atau ikut denganku dengan kemungkinan selamat 15%.." lanjutnya lagi. Darr!! Alfian lagi-lagi menembak Zombie yang hampir masuk ke kelas itu. "Aku pergi sekarang, Volanum ikut aku.." ucapnya pelan sembari berjalan menuju keluar kelas, eh tunggu sebentar! Ia mengajakku?!. "Hei! Apa maksudmu? Kenapa kau hanya menyuruhku seorang yang ikut?" "Aku mengajak semuanya, namun aku memberi pilihan pada yang lain, sedangkan kau harus ikut." Ucapnya datar. "Bodoh! Itu yang kumaksud! Kenapa aku tidak memiliki pilihan dan ikut denganmu!?" "Karena kau yang membawa handgunku itu.." ucapnya lagi sembari mulai menyingkirkan meja-meja yang susah payah kususun di depan pintu. "Kau yang memberikan pistol ini bodoh!" Dukk!! Zombie lain berhasil masuk melalui jendela yang sudah pecah itu, tanpa sadar aku langsung menembak zombie itu tepat di kepalanya. Prankk!! Prankk!! Dalam waktu yang bersamaan 2 buah jendela lain ikut pecah, Alfian benar, kemungkinan bertahan hidup disini sangat kecil. "Kau mengerti kan? Sebaiknya kita cepat pergi.." ucap Alfian yang sudah memegangi meja terakhir yang menutup pintu kelas, ia masih menahan pintu itu, menungguku. Aku mengangguk pelan, entah bagaimana aku mengerti jalan pikirannya, aku langsung mengarahkan handgun di tanganku ke arah pintu yang terlihat didorong-dorong dari luar itu, Alfian masih tetap menahan pintu itu. "Ini terakhir kalinya aku mengajukan ini, jika ada yang mau ikut berbarislah di belakang Volanum sekarang.." ucap Alfian pelan. Beberapa saat tak ada yang bergerak, tapi kemudian. Aku merasakan seseorang memelukku dari belakang, aku mengenal aroma ini. "A.. ayla.." ucap orang itu, suaranya bergetar karena tangisnya, ya dia adalah Fransisca. Ia melepas pelukannya padaku, entah kenapa ia memelukku padahal Alfian yang menyelamatkannya... -_- "A.. aku.. ikut kalian.." ucapnya pelan. Tak lama beberapa orang yang lain ikut berbaris di belakangku, hampir semua yang ikut dengan Alfian ,sementara yang tersisa di kelas nampaknya sudah terlalu ketakutan hingga tak dapat bergerak. Alfian menoleh dan terdiam sejenak, ia kemudian mengangguk. "13 orang siswa dan 1 guru, denganku dan Volanum jadi 16 orang sebaiknya kalian membawa sesuatu untuk melindungi diri kalian.." Mendengar itu mereka langsung mengambil sapu, penggaris besi dan peralatan kelas lainnya. "Baiklah! Kita pergi sekarang.." ucapnya pelan, dengan cepat ia menggeser meja itu bersama dengan tubuhnya. Brakk!! Pintu itu langsung terbuka, puluhan Zombie terdorong ke dalam kelas, setelah itu langsung kutembaki semua Zombie yang terlihat. Alfian kemudian ikut menembaki mereka sembari berjalan mundur ke arahku. Suara tembakan yang tak henti hentinya, darah dimana mana, ini benar-benar seperti medan perang. Beberapa saat kemudian semua Zombie di sekitar kelas kami sudah jatuh semua setidaknya untuk beberapa waktu. "Kita keluar sekarang.." ucap Alfian yang baru selesai mengisi pelurunya, ia kemudian memberi magasin peluru padaku dan langsung berjalan keluar diikuti kami semua. Kini di kelas hanya ada beberapa orang yang sangat pucat, mereka bergetar ketakutan, tak sedikit yang memeluk kaki mereka sendiri, aku sebenarnya kasihan melihat mereka, namun jika kami membawa mereka, mereka hanya akan menghambat kami, tanpa menoleh ke kelas lagi, aku langsung berjalan menjauh dari kelasku itu, meninggalkan para cikal bakal Zombie itu... ----------------------------------------------------- Ini adalah hari pertama wabah Zombie menyerang bumi ini, dalam waktu singkat semua kejadian itu terjadi begitu saja, kejadian yang banyak kulihat di komik, film maupun game.. Namun ada keanehan disini, bagaimana bisa Ayla tiba-tiba berubah menjadi Zombie? Kenapa Alfian menembak 4 orang yang tak bersalah? Tidak tunggu, kenapa Alfian membawa senjata api ke sekolah? dan kenapa ia memberikan handgun ini padaku? Ada sesuatu yang aneh, dan aku yakin Alfian mengetahui sesuatu itu.. Ia menyembunyikan sesuatu! To be continue...

Vegetarian Zombie?! - Prolog (p.1 of 1)

Diposting oleh My book pada 07:04, 26-Nov-15

Vegetarian Zombie?! - Prolog (p.1 of 1) 1 bulan telah berlalu sejak peristiwa ini dimulai.. Peristiwa yang mengakibatkan banyak orang yang berubah menjadi mayat hidup bersifat predator yang dengan senang hati mengajak orang lain menjadi salah satu dari mereka melalui gigitan. Ya, atau lebih sederhananya.. wabah zombie yang sering kita temui di game, film, komik atau semacamnya, sedang terjadi saat... [Baca selengkapnya]

hal 4 bag 5. soul devil of the darknes

Diposting oleh My book pada 06:13, 06-Nov-15

hal 4 bag 5. soul devil of the darknes. "apa adik ku sudah lahir?" ucap seorang anak umurnya sekitar 10 th. "ah saseha, dari mana saja kau, ya lihat" wah dia mirip dengan ku, "ya, saseha, nanti jg adik mu ya" kata aina. "ya bu, itu pasti" jawab saseha. "siapa namanya?" tanya saseha. "dia staro" jawab aina. "waah, baiklah staro" ujar saseha. ~ 5 hari kemudian~ "sepertinya benar beberapa... [Baca selengkapnya]

hal 3 bag 5. soul devil of the darknes

Diposting oleh My book pada 05:53, 06-Nov-15

hal 3 bag 5. soul devil of the darknes. " akhirnya selesai " ucap seorang half demon tipe medis itu "apa. benar sudah selesai?" ucap ricter dengan wajah bahagia. dengan cepat ricter masuk ke ruangan itu dan langsung melihat anaknya yg baru lahir itu. "wah rabutnya putih perak, kira² kita beri nama apa?" tanya ricter pada istrinya itu. "ah itu terserah padamu saja" jawab aina... [Baca selengkapnya]

hal 2, bag 5. soul devil of darknes

Diposting oleh My book pada 10:47, 05-Nov-15

beberapa abad yg lalu... .. "hahaha" ucap seorang halfdemon, licuis (perdana mentri dari clan devil) "licuis bagaimana apa ini yg terakhir?" ucap seorang pemimpin clan (sparda) "ya tuan dengan lenyapnya clan soul, clan kita telah mengiasai dunia" jawab licuis "ya akhirnya kita memang yg paling kuat dari yg terkuat" jawab sparda ~sementara itu di wings~ "tuan gawat," ucap seorang prajurit dari clan god itu. "ada apa?" ucap seorang... [Baca selengkapnya]

hal 1 bag 5. soul devil of darknes.

Diposting oleh My book pada 10:39, 05-Nov-15

hal 1 bag 5. soul devil of darknes my brother. "owh maaf staro sudah bertanya seperti itu" ucap lidia minta maaf padaku. "ya tidak apa² hari sudah larut, sebaiknya kau tidur sekarang" suruhku pada lidia "oh tp kau, aku tidak apa²" ucapku memotong ucapan lidia. "baiklah, tp jangan tidur terlalu larut ya" ujar lidia padaku. "oh ya baik" jawabku lalu tap, lidia memelukku, entah apa sebabnya. "kuharap kau tidak... [Baca selengkapnya]

soory

Diposting oleh My book pada 14:35, 31-Okt-15

blog ini sudah tidak di operasikan lg.
silahkan masuk ke freestar.mwb.im
ok thanks

Hal 3. Bag 4 soul devil of the darknes.

Diposting oleh My book pada 12:37, 16-Okt-15

Hal 3. Bag 4 soul devil of the darknes. Malam semakin larut itarashi sudah tidur di kamarnya. "tap, (ada tangan memegang pundak ku, dan ternyata itu lidia). Hy" sapa lidia. "oh lidia hy" sapa ku . "eh kamu belum tidur?"tanya ku. "hmz, belum ,aku tidak bisa tidur," jawab lidia. "hmz, ya udah, km temenin aku aja di sini." ujarku ,sedikit... [Baca selengkapnya]

Hal 2. Bag 4. Soul devil of the darknes.

Diposting oleh My book pada 12:00, 16-Okt-15

Hal 2. Bag 4. Soul devil of the darknes. Hari mulai senja. Kami semua berkumpul di kabin, tentu kami telah mengganti bagu, ya mana mungkin kami memakai seragam skolah yg penuh darah itu terus terusan. "hmz. Apa semua di sini?" tanya alucard. "ya semua di sini."jawab roly. "ting. (terdengar suara bel) makanan siap!" ucap lidia . "hmz, kayaknya enak" ujar... [Baca selengkapnya]

Hal 1, bag 4. Soul devil of the darknes. Beautiful the mowing xv.

Diposting oleh My book pada 11:43, 16-Okt-15

Hal 1, bag 4. Soul devil of the darknes. Beautiful the mowing xv. Hehe. Soory lama up date. Soalnya sy terlalu sivuk, sivuk buat ngedownload game. Haha, dari pada banyak cing cong lg. Yosh! Enjoy the story. Kamipun satu per satu menaiki mowings alucard yg super besar ini. . .(yg alucard sebut dengan mowings xv) setela kami sampai di dalam wah begitu keren, alucard memang hebat,... [Baca selengkapnya]